Selesai sudah..

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, setiap permulaan pasti ada akhir. Rabu 23 Januari 2013 merupakan hari kelulusan kami dari program pendidikan calon pekerja PT Pertamina (Persero), yang artinya selesai sudah masa-masa menyenangkan penuh suka duka menjalani program pendidikan ini. Kami 41 orang BPS M&T bisa dikatakan sudah seperti keluarga, keluarga besar, yang memiliki ikatan batin satu sama lain, sehingga saat-saat akhir itulah keharuan yang ada, antara senang dan haru karena kami harus berpisah.

Acara penutupan berlangsung di gedung kantor pusat Pertamina, dengan ditutup langsung oleh direktur utama, Ibu Karen. Semua peserta, total berjumlah 267 orang, baik BPS maupun BPA dari berbagai direktorat berkumpul disana. Keceriaan terlihat dari wajah-wajah yang hadir hari itu. Riuh rendah suara-suara ceria terdengar bersahut-sahutan. Semua bergembira karena telah berakhir masa pendidikan. Menjadi awal permulaan kami untuk membangun bangsa negara melalui Pertamina.

Rabu malam kami berkumpul bersama, khusus direktorat kami, M&T. Dan kebetulan salah seorang kawan kami, Nia Ulang Tahun. Jadi sembari melaksanakan farewell party sekaligus merayakan ultah. Diakhir acara suasana mendadak haru. Kami akan berpisah satu sama lain. Menjalani pendidikan, mulai dari pendidikan karakter bersama, masa-masa berat ketika harus menjalani kewiraan di Malang, dan masa-masa di Cepu, Cirebon, Jakarta merupakan momen-momen yang menumbuhkan ikatan kebersamaan kami. Namun inilah awal perjuangan kami.

O ya, siang setelah wisuda, diumumkan tempat penugasan kami. Dan ternyata kami akan tersebar dari ujung barat sampai ujung timur ada. Seru sekali. Dan saya ditertawakan karena daerah penugasan saya juga termasuk terpencil haha. Tak apalah, Indonesia memang harus kita jelajahi.

Salam jaya Indonesia.

balongan-jatibarang-jakarta

ini pertama kali saya jalan2 ke indramayu, sebenernya ga jalan2 sih, tapi sedang ada penelitian aja di depot balongan. Indramayu, kota di pesisir utara jawa barat ternyata kotanya yang dalam bayangan saya semula ramai oleh bis2 besar lintas pantura, eh ternyata kotanya tentram dan damai. Kendaraan bermotor jarang2 lewat, angkot pun jarang, dan walaupun letaknya dekat dengan pantai, hawanya ga terlalu panas kayak jakarta. Balongan adalah nama kecamatan di Indramayu, sekitar 15 menit dari pusat kota. Angkot kesana jarang, apalagi kalo jam 4 sore mau pulang dari balongan ke kota, udah ga ada rek. Alhasil selama di balongan kami hampir selalu diantar jemput. Jakarta-balongan kemarin kami tempuh dengan mobil, dan menghabiskan 4 jam, karena macet dan lainnya.

Nah, ketika mau pulang, kami mencoba naik kereta. Stasiun KA tidak ada di Indramayu, adanya di jatibarang. Jatibarang sendiri adalah nama kecamatan di indramayu selatan. Iming2nya sih, jatibarang-jakarta bisa ditempuh selama 2,5 jam. Indramyu-jatibarang sendiri ditempuh selama 30 menit, menempuh 14 km. Jalannya sepi, aga bergelombang. Dan tidak disangka-sangka, jatibarang ternyata lebih hidup dibanding indramayu, namun lebih kumuh. Bangunan-bangunan dipinggir jalan mepet sama Jalan rya, alhasil sering terjadi kemacetan disitu. Suasananya tidak teratur. Dan untuk memasuki Stasiun, wow, kami harus melewati pasar yang ramai, dimana kegiatan jual-beli, bongkar muat barang trjadi di jalan. alhasil kena macet kami disitu. Padahal stasiun merupakan tempat transportasi umum yang harusnya akses jalannya mantap, tapi disini malah sebaliknya.

Okey, kereta kami Cirebon ekspress berangkat pukul 4, telat dibanding jadwal di tiket, namun itu sudah biasa di KA2 Indonesia. Dan akhirnya kami tiba di jakarta pukul 18.30, 2,5 jam saja. cepat ya..

Mencari tempat untuk internetan

Hari ini saya bisa intenetan dengan nyaman, karna dari kemarin susah banget cari sinyal di tempat saya ini. Oh ya tempat tinggal saya ini kamar kosan dengan 2 tempat tidur, tempat tidur tersebut ada yang dekat jendela dan ada yang tidak. Nah tempat tidur saya ada di tempat yang jauh dari jendela. Entah kenapa sulit sekali dapat sinyal 3 g disana, dan hari ini saya iseng pindah ke tempat tidur kawan saya, kebetulan dia sedang pergi, eh luar biasa sinyal lancar jaya disini. Padahal jarak tempat tidur satu ke tempat tidur lain cuma 1 meter, hehehe.

Kejadian ini bukan cuma saya alami di kosan saya, di kantor pun begitu. Ketika saya pindah meja, 2 meter dari meja saya yang lama tiba2 saya susah konek ke internet padahal sinyal wifi masih tersambung ke komputer saya. Akhirnya saya balik lagi ke meja yang lama, dan seketika saya bisa internetan lagi dengan lanjar jaya juga.

Kenapa ya ini? 🙂

Mencoba nasi biryani

kemarin , setelah menunggu dalam ketidakpastian, akhirnya uang saku cair juga, alhamdulillah. Untuk merayakan momen tersebut kami ingin makan di tempat yang unik dan menarik. Nah, setelah mencari-cari kesana kemari saya menemukan ada restoran di dekat kantor kami yang direkomendasikan oleh pakar kuliner kita, yak oleh pak bondan “maknyus” winarno. Konsep dari restoran itu restoran arab. kebetulan saya juga penasaran.

Maka meluncurlah kami kesana. Tempatnya sederhana, dan jika kami tidak jeli maka restoran ini akan terlewat begitu saja. Karena tampilan depannya memang kayak rumah biasa. Ternyata restoran ini bisa dikatakan basecamp atau tempatnya orang Arab berkumpul. Mengapa banyak orang Arab disini ya, apa yang mereka kerjakan disini, begitu tanyaku dalam hati. Kami semua akhirnya memesan Nasi Briyani. Seperti Nasi kebuli dengan daging kambing. Rasanya enak, bumbunya tidak terlalu kuat kayak nasi goreng, namun gurih dan ditambah oleh daging kamibing yang wow empuk dan legit, lalu disertai acar dan sambal tomat dan sambal cabe. Harganya lumayan mahal Rp40ribu. Tapi setidaknya itu mengobati rasa penasaran kami tentang masakan arabiyan.

Bertarung dengan motor mobil..wow

Sudah hampir 3 minggu saya tinggal (nge-kos) di jakarta di daerah kramat . Dan setiap hari saya melalui jalan kramat raya untuk berangkat ke kantor. Mulai dari pagi hari dimana semua orang sibuk untuk memulai aktifitas harian maupun juga sore hari ketika para pekerja kantoran hendak pulang ke rumah masing-masing.

Saya sangat tidak nyaman beraktifitas dengan berjalan kaki di jakarta, baik pagi,siang, ataupun malam. Karena tiap hari saya ke kantor jalan kaki, jadi saya merasakan bagaimana tidak enaknya menjadi pejalan kaki di jakarta. Semua trotoar yang notabene buat pejalan kaki, habis diokupasi PKL dan parkir. Dan akhirnya saya harus berjalan di jalan utama berdesakan dengan motor dan mobil yang saling berklakson-klakson ria menyuruh setiap kendaraan di depannya untuk cepat bergerak. Di Jalan Kramat Raya sendiri, selain trotoar yang tidak dapat dilewati , hal ini juga diperparah dengan adanya parkir mobil dan yang memenuhi badan jalan sampai mengambil 2 jalur mobil, padahal ini wilayah di depan kantor polres Jaksel. Bagaimana bisa ini>???.

Oleh karena itu para pejalan kaki di daerah kramat harus bertarung dengan mobil dan motor dengan amat frontal. Akhirnya daripada terus-terusan di klakson, maka kami berjalan pura-pura tidak mendengar, wong gimana lagi, dimana kami harus berjalan kalo terus di klakson2 seperti itu.

Besar harapan saya semoga pemprov DKI memerhatikan hal ini, karena transportasi massal saja tidak cukup untuk membuat masyarakat mau berpindah dari angkutan pribadi, namun harus juga diintegrasikan dengan pedestrian yang asri dan nyaman untuk dilalui.

Jalan-jalan ke Pulau Bangka

Bangka, sebuah pulau eksotik dekat sumatera selatan, memiliki banyak pantai yang indah, perpaduan antara pantai pasir putih dan batu-batu besarnya yang sangat menawan. Pada bulan Junia lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi tetangga pulau laskar pelangi ini. Karena saya saat itu sedang berdinas di lubuklinggau yang cukup dekat dengan Palembang, maka saya berangkat ke Bangka melalui Palembang. Untuk mengunjungi Bangka terdapat 2 sarana transportasi, melalui laut dengan feri atau dengan pesawat. Dikarenakan waktu saya terbatas, hanya 2 hari, kami berempat sepakat untuk menggunakan pesawat.

Perjalanan kami mulai jam 8 malam menggunakan travel, start Lubuklinggau. Perjalanan ke Palembang ini menghabiskan waktu 7 jam, dengan kondisi jalan yang rusak parah, penuh lubang menganga. Untuk menuju ke Palembang terdapat 2 alternatif jalur, melalui Prabumulih atau melalui Sekayu. Medan jalan prabumulih lebih mulus namun kondisinya berkelok-kelok dan berbahaya jika orang tersebut mabuk-an. Nah travel kami memilih jalur sekayu, jalannya tidak berkelok-kelok namun berlubang. Dan kebiasaan disini para supir selalu menyetel house music, alesannya sih agar tidak ngantuk, tapi klo gini kan penumpang yang dikorbankan, para supir itu rata2 menyetel musiknya secara keras-keras, yang membuat penumpang tidak bisa tidur. Pada pukul 3.30 kami sampai di Palembang, kami menuju rumah teman kami dulu dekat PTC sebelum ke bandara. Setelah tidur sebentar, bersih2, sarapan, pukul 6 kami berangkat menuju bandara. Sesampainya di bandara kami segera menuju loket pesawat kami untuk menukarkan tiket pesawat. Terjadi sedikit permasalahan di bandara dengan tiketnya. Namun semua akhirnya teratasi.

Jarak Palembang-Bangka sebenarnya dekat mungkin hanya sekitar 200 km. Naik pesawat pun hanya 25 menit. Naik 8 menit, diatas 9 menit dan turun 8 menit. Sebentar saja. Begitu pesawat mendekati pulau Bangka terlihat jelas kubungan-kubangan bekas galian timah, cukup besar saya kira, warnanya kontras dengan lingkungan sekitarnya yang hijau. Pesawat kami akhirnya mendarat di bandara depati amir, bandaranya kecil saja, seperti terminal. Namun cukup representatif. Kami dijemput oleh teman kami menggunakan mobil, dan dimulailah petualangan kami di Bangka, kami langsung menuju Belinyu, sebuah kota di utara Bangka, sekitar 2-3 jam dari bandara. Kami melewati Pangkalpinang, ibukota provinsi BaBel, sebuah kota yang cukup menarik saya kira, Sungailiat, dan akhirnya sampailah kami di Belinyu. Udara di Bangka sendiri, khususnya di Pangkalpinang tidak terlalu panas, mirip sama Palembang, namun karena kota ini cukup rindang, sehingga cukup nyaman. Di Belinyu kami mengunjungi pantai Romodong, dan satu pantai lagi yang saya lupa namanya. Pantainya bersih dan belum terjamah pembangunan. Pantai-pantai di Bangka mempunyai kekhasan yang unik, di setiap pantainya hampir selalu ada batu-batu besar. Kami menghabiskan hari pertama kami di pantai-pantai Belinyu.

bigstone

Esok harinya kami lagi-lagi wisata pantai. Kami mengunjungi pantai Matras, dan Parai. Pantai matras merupakan pantai dengan pasir putih, dengan garis pantai yang panjang, terdapat batu-batu besar yang khas di ujung pantai ini, untuk memasuki pantai ini kami dipungut biaya Rp3000/orang. Setelah puas menikmati matras, kami lanjut ke Parai, pantai ini telah masuk wilayah komersial, terdapat resort+fasilitas2 lain di pantai ini. Untuk masuk ke Parai, kami dipungut biaya yang cukup mahal, Rp25000/orang. Pantai Parai hanya terdapat batu, batu, dan batu, pasir putihnya pun hanya sepetak kecil. Panoramanya cukup indah, saya menikmati angin sepoi2 sembari duduk di batuan besar disana. Very relaxing.
romodong

romodong sunset
Memasuki siang hari, jam 13an kami beranjak pergi, kami ingin mengunjungi wisata non-pantai, namun sebelum itu kami makan siang terlebih dahulu di pantai tanjungpesona, terdapat makanan seafood di pinggir pantai sini. Ketika kami mengunjungi pantai ini, laut sedang surut, sehingga garis pantai terlihat jauh menjorok ke laut, dan pantai itupun jadi tempat untuk kebut-kebutan motor maupun mobil, pasirnya ternyata cukup keras ya.

Selepas makan siang di pantai tersebut kami langsung bertolak menuju museum timah, di Pangkalpinang. Namun sayang sesampai disana, museum telah tutup karena telah lewat jam 15.00, oleh karena itu kami langsung wisata belanja di pusat kota Pangkalpinang. Disana banyak toko menjual makanan oleh-oleh khas Bangka seperti kemplang udang, kemplang cumi yang tidak dapat ditemui di Palembang, lalu ada cumi goreng, keripik gonggong, dan terasi khas Bangka. Selesai membeli oleh-oleh, saya membeli mie Koba, mie khas Bangka. Sensasi mie koba akan saaya ceritakan di artikel selanjutnya. Oke sekian liputan perjalanan ke Bangka, semoga bermanfaat

s

ngaret..telat..

minggu lalu semua rencana saya berantakan. mulai dari menghadiri pernikahan teman saya, terbang ke jakarta, dan sampai rencana untuk pulang ke Lubuk Linggau, semua berantakan.

saya merupakan orang yang suka membuat rencana detail, sampai waktu pun saya jadwalkan dengan toleransi amat sedikit. Akibatnya jika rekan saya tidak bisa mengikuti jadwal saya, berantakanlah rencana yang telah disusun rapi ini.

Minggu lalu saya berencana berangkat ke Muara Enim untuk menghadiri pernikahan teman kerja saya, dijadwalkan palinglambat jam 7 sudah berangkat dari Linggau, estimasi saya perjalanan akan memakan waktu sekitar 3 jam , sehingga diperkirankan saya akan sampai pada pukul 11 siang, dan pada pukul 11.30, setelah menghadiri resepsi sebentar, saya berangkat menuju palembang. Perkiraan waktu Muara Enim-Palembang sekitar 4 jam. sehingga paling lambat saya sampai disana pukul 4 sore. Dan karena pesawat saya akan berangkat pukul 17.25, maka rencana saya aman. Namun rencana tinggalah rencana, karena budaya Indonesia yang pada umumnya,jam karet, selalu telat, baru pada pukul 8.30 kami berangkat, kami sampai di Muara Enim pada pukul 11.30, dan ternyata para ibu-ibu harus berdandan pula, sehingga baru pada pukul 12.30 kami sampai ditempat acara. Bencana lain muncul ketika saya tidak bisa menemukan travel yang kosong, sehingga saya mencegat travel yang lewat, dan travel tersebut baru berangkat pada pukul 13.30. Sudah telat 2 jam dari rencana awal saya semula. Dan perjalanan pun tidak semulus yang saya duga, akibat truk-truk batubara yang berjalan hampir beriringan, membuat laju kendaraan agak tersendat, dan gilanya lagi ketika memasuki indralaya, kemacetan pun terjadi, kemacetan yang betul-betul tidak bisa bergerak. sehingga saya memutuskan untuk mengendarai motor yang saya stop di pinggir jalan (untung orang nya mau nolong). Dan motor pun tidak bisa leluasa selip sana selip sini, sehingga saya yang harus sudah ada di bandara paling lambat pada pukul 5, baru sampai pukul 19.40, pesawat saya yang ternyata di delay 1,5 jam pun tidak menolong saya untuk tidak terlambat. sangat kesal saya waktu itu, terpaksa saya beli tiket lain.

Dari situ saya memperoleh pelajaran, bahwa jka kita berhubungan dengan orang lain, terapkanlah toleransi waktu yang besar. Karena tiap orang mempunyai kebiasaan tersendiri apabila menyangkut ketepatan waktu.