Jalan-jalan ke Pulau Bangka

Bangka, sebuah pulau eksotik dekat sumatera selatan, memiliki banyak pantai yang indah, perpaduan antara pantai pasir putih dan batu-batu besarnya yang sangat menawan. Pada bulan Junia lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi tetangga pulau laskar pelangi ini. Karena saya saat itu sedang berdinas di lubuklinggau yang cukup dekat dengan Palembang, maka saya berangkat ke Bangka melalui Palembang. Untuk mengunjungi Bangka terdapat 2 sarana transportasi, melalui laut dengan feri atau dengan pesawat. Dikarenakan waktu saya terbatas, hanya 2 hari, kami berempat sepakat untuk menggunakan pesawat.

Perjalanan kami mulai jam 8 malam menggunakan travel, start Lubuklinggau. Perjalanan ke Palembang ini menghabiskan waktu 7 jam, dengan kondisi jalan yang rusak parah, penuh lubang menganga. Untuk menuju ke Palembang terdapat 2 alternatif jalur, melalui Prabumulih atau melalui Sekayu. Medan jalan prabumulih lebih mulus namun kondisinya berkelok-kelok dan berbahaya jika orang tersebut mabuk-an. Nah travel kami memilih jalur sekayu, jalannya tidak berkelok-kelok namun berlubang. Dan kebiasaan disini para supir selalu menyetel house music, alesannya sih agar tidak ngantuk, tapi klo gini kan penumpang yang dikorbankan, para supir itu rata2 menyetel musiknya secara keras-keras, yang membuat penumpang tidak bisa tidur. Pada pukul 3.30 kami sampai di Palembang, kami menuju rumah teman kami dulu dekat PTC sebelum ke bandara. Setelah tidur sebentar, bersih2, sarapan, pukul 6 kami berangkat menuju bandara. Sesampainya di bandara kami segera menuju loket pesawat kami untuk menukarkan tiket pesawat. Terjadi sedikit permasalahan di bandara dengan tiketnya. Namun semua akhirnya teratasi.

Jarak Palembang-Bangka sebenarnya dekat mungkin hanya sekitar 200 km. Naik pesawat pun hanya 25 menit. Naik 8 menit, diatas 9 menit dan turun 8 menit. Sebentar saja. Begitu pesawat mendekati pulau Bangka terlihat jelas kubungan-kubangan bekas galian timah, cukup besar saya kira, warnanya kontras dengan lingkungan sekitarnya yang hijau. Pesawat kami akhirnya mendarat di bandara depati amir, bandaranya kecil saja, seperti terminal. Namun cukup representatif. Kami dijemput oleh teman kami menggunakan mobil, dan dimulailah petualangan kami di Bangka, kami langsung menuju Belinyu, sebuah kota di utara Bangka, sekitar 2-3 jam dari bandara. Kami melewati Pangkalpinang, ibukota provinsi BaBel, sebuah kota yang cukup menarik saya kira, Sungailiat, dan akhirnya sampailah kami di Belinyu. Udara di Bangka sendiri, khususnya di Pangkalpinang tidak terlalu panas, mirip sama Palembang, namun karena kota ini cukup rindang, sehingga cukup nyaman. Di Belinyu kami mengunjungi pantai Romodong, dan satu pantai lagi yang saya lupa namanya. Pantainya bersih dan belum terjamah pembangunan. Pantai-pantai di Bangka mempunyai kekhasan yang unik, di setiap pantainya hampir selalu ada batu-batu besar. Kami menghabiskan hari pertama kami di pantai-pantai Belinyu.

bigstone

Esok harinya kami lagi-lagi wisata pantai. Kami mengunjungi pantai Matras, dan Parai. Pantai matras merupakan pantai dengan pasir putih, dengan garis pantai yang panjang, terdapat batu-batu besar yang khas di ujung pantai ini, untuk memasuki pantai ini kami dipungut biaya Rp3000/orang. Setelah puas menikmati matras, kami lanjut ke Parai, pantai ini telah masuk wilayah komersial, terdapat resort+fasilitas2 lain di pantai ini. Untuk masuk ke Parai, kami dipungut biaya yang cukup mahal, Rp25000/orang. Pantai Parai hanya terdapat batu, batu, dan batu, pasir putihnya pun hanya sepetak kecil. Panoramanya cukup indah, saya menikmati angin sepoi2 sembari duduk di batuan besar disana. Very relaxing.
romodong

romodong sunset
Memasuki siang hari, jam 13an kami beranjak pergi, kami ingin mengunjungi wisata non-pantai, namun sebelum itu kami makan siang terlebih dahulu di pantai tanjungpesona, terdapat makanan seafood di pinggir pantai sini. Ketika kami mengunjungi pantai ini, laut sedang surut, sehingga garis pantai terlihat jauh menjorok ke laut, dan pantai itupun jadi tempat untuk kebut-kebutan motor maupun mobil, pasirnya ternyata cukup keras ya.

Selepas makan siang di pantai tersebut kami langsung bertolak menuju museum timah, di Pangkalpinang. Namun sayang sesampai disana, museum telah tutup karena telah lewat jam 15.00, oleh karena itu kami langsung wisata belanja di pusat kota Pangkalpinang. Disana banyak toko menjual makanan oleh-oleh khas Bangka seperti kemplang udang, kemplang cumi yang tidak dapat ditemui di Palembang, lalu ada cumi goreng, keripik gonggong, dan terasi khas Bangka. Selesai membeli oleh-oleh, saya membeli mie Koba, mie khas Bangka. Sensasi mie koba akan saaya ceritakan di artikel selanjutnya. Oke sekian liputan perjalanan ke Bangka, semoga bermanfaat

s

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: