ngaret..telat..

minggu lalu semua rencana saya berantakan. mulai dari menghadiri pernikahan teman saya, terbang ke jakarta, dan sampai rencana untuk pulang ke Lubuk Linggau, semua berantakan.

saya merupakan orang yang suka membuat rencana detail, sampai waktu pun saya jadwalkan dengan toleransi amat sedikit. Akibatnya jika rekan saya tidak bisa mengikuti jadwal saya, berantakanlah rencana yang telah disusun rapi ini.

Minggu lalu saya berencana berangkat ke Muara Enim untuk menghadiri pernikahan teman kerja saya, dijadwalkan palinglambat jam 7 sudah berangkat dari Linggau, estimasi saya perjalanan akan memakan waktu sekitar 3 jam , sehingga diperkirankan saya akan sampai pada pukul 11 siang, dan pada pukul 11.30, setelah menghadiri resepsi sebentar, saya berangkat menuju palembang. Perkiraan waktu Muara Enim-Palembang sekitar 4 jam. sehingga paling lambat saya sampai disana pukul 4 sore. Dan karena pesawat saya akan berangkat pukul 17.25, maka rencana saya aman. Namun rencana tinggalah rencana, karena budaya Indonesia yang pada umumnya,jam karet, selalu telat, baru pada pukul 8.30 kami berangkat, kami sampai di Muara Enim pada pukul 11.30, dan ternyata para ibu-ibu harus berdandan pula, sehingga baru pada pukul 12.30 kami sampai ditempat acara. Bencana lain muncul ketika saya tidak bisa menemukan travel yang kosong, sehingga saya mencegat travel yang lewat, dan travel tersebut baru berangkat pada pukul 13.30. Sudah telat 2 jam dari rencana awal saya semula. Dan perjalanan pun tidak semulus yang saya duga, akibat truk-truk batubara yang berjalan hampir beriringan, membuat laju kendaraan agak tersendat, dan gilanya lagi ketika memasuki indralaya, kemacetan pun terjadi, kemacetan yang betul-betul tidak bisa bergerak. sehingga saya memutuskan untuk mengendarai motor yang saya stop di pinggir jalan (untung orang nya mau nolong). Dan motor pun tidak bisa leluasa selip sana selip sini, sehingga saya yang harus sudah ada di bandara paling lambat pada pukul 5, baru sampai pukul 19.40, pesawat saya yang ternyata di delay 1,5 jam pun tidak menolong saya untuk tidak terlambat. sangat kesal saya waktu itu, terpaksa saya beli tiket lain.

Dari situ saya memperoleh pelajaran, bahwa jka kita berhubungan dengan orang lain, terapkanlah toleransi waktu yang besar. Karena tiap orang mempunyai kebiasaan tersendiri apabila menyangkut ketepatan waktu.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: