Belajar Dari Proses: mobil Esemka

esemka

Siapa menyangkal Toyota merupakan salah satu produsen mobil terbesar di dunia. Namun siapa yang tahu dahulu Toyota adalah perusahaan tekstil,?. Begitulah dinamika sebuah perusahaan, pendiri Toyota Kiichiro toyoda, memiliki visi Jepang akan membuat mobil bagi masyarakat Jepang.Maka dia tidak segan untuk mengganti core bisnis perusahaannya untuk bertransformasi menjadi perusahaan pembuat mobil. Padahal dikala itu banyak yang mencoba mendirikan perusahaan mobil namun tidak ada yang berhasil bertahan. Namun berbekal semangat, perhitungan cermat, serta visi yang besar, ia berhasil. Namun bagaimana ia membuat mobil pertama?, ia mulai dengan mendatangkan Chevrolet, mobil amerika ternama amerika saat itu, untuk dipreteli untuk melihat bagaimana jeroan mobilnya, sehingga ia dapat melihat kemudian mempelajari, serta meniru untuk membuatnya. Pengerjaannya pun masih bersifat manual, tidak seperti sekarang yang serba otomatis. Mobil pertama yang dihasilkannya memiliki kemampuan yang buruk. Ketika pertama kali dijalankan, mobil itu tampak berjalan normal, namun kemudian mobil tersebut mogok, entah mesinnya, entah material-materialnya yang patah. Begitu banyak mobil yang telah terjual mengalami hal serupa, hal ini membuat ia membuat layanan purnajual untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul dari performa mobilnya itu. Pada suatu ketika, toyoda memproduksi truk, dan truk itu dibeli oleh seseorang yang sangat nasionalis, sangat mencintai produk local,saat sedang menggunakan truk itu untuk urusan perniagaan, tak disangka as truk tersebut patah, maka layanan purnajual toyoda pun langsung mendatangi lokasi kejadian, dan memohon maaf, serta menawarkan membawakan muatan truk itu ke dalam taksi untuk diantarkan ke tujuan, sementara ia dan timnya memperbaiki truknya.
Ketika itu Toyoda (nama lama Toyota) memproduksi mobilnya dengan kandungan lokalnya mencapai 80%. Namun hal ini belumlah cukup bagi pemerintah Jepang, mereka yang sedang bersiap untuk menghadapi Perang dunia 2, menghendaki semua komponen harus 100% local. Ini merupakan pukulan keras bagi toyoda, karena ada beberapa komponen yang saat itu belum ada di Jepang. Maka ia dan timnya pun bekerja keras sehingga pada akhirnya ia berhasil membuat Toyota 100% komponen local. Dan sekarang kita lihat, Toyota merupakan merk yang kuat dalam industry otomotif, kemampuan produk-produk buatannya diakui dunia.
*
Pada saat jusuf kalla masih menjadi wapres negeri ini, untuk memenuhi kebutuhan alutsista, ia menantang PINDAD untuk memproduksi panser. Pada saat itu pindad belum memiliki pengalaman untuk memproduksi panser. Namun jusuf kalla menuntut agar PINDAD mampu. Maka, panser pindad pun dibuat denga semangat “learning by doing” . Dan dalam proses produksinya, panser ini mengalami banyak kegagalan pada produksi awal-awal, namun kegagalan-kegagalan itu dilihat sebagai tantangan bukan sebagai hambatan, sehingga mereka belajar untuk mengatasi kegagalan-kegagalan dan pada akhirnya pada produksi ke 60, PINDAD berhasil menyempurnakan proses produksi pansernya. Dan sekarang kita lihat hasilnya, Malaysia pun membeli panser tersebut dari kita .
*
Apa yang bisa kita lihat dalam secuil kisah diatas?. Ya, keteguhan, ketekunan, dan visi yang besar. Begitulah suatu produk istimewa dihasilkan. Hanya dengan cara itu, mereka bisa menjadikan Toyota dari bukan apa-apa menjadi apa-apa, from zero to hero, bahkan mengalahkan “mobil mentornya” Chevrolet. Dan visi pula yang membuat Indonesia akhirnya mampu memproduksi panser sendiri. Tidak mungkin kita menghasilkan sebuah produk sekali coba, langsung menghasilkan produk spektakuler. Semua butuh proses.

Mobil SUV produksi SMK di Solo, yang bermerek Esemka, baru-baru ini menuai kontroversi karena mobil tersebut digunakan sebagai kendaraan dinas walikota Solo dan wakilnya. Banyak yang pro dan ada juga yang kontra. Yang kontra dengan nyinyirnya menyebut walikota hanya mencari pencitraan, hanya mencari popularitas, karena mereka beranggapan ,mobil tersebut belum lolos uji coba, sehingga belum layak dijadikan mobil dinas seorang pejabat. Namun banyak pula yang pro, dengan mengatakan sudah seharusnya pejabat memberikan contoh untuk menggunakan mobil produksi negeri sendiri. Semua orang bebas untuk memberikan pendapatnya karena Indonesia merupakan Negara demokrasi, yang menghargai perbedaan pendapat.mNamun yang pasti kemandirian bangsa dalam segala bidang yang dahulu pernah didengungkan presiden pertama kita, Soekarno, harus mulai diwujudkan dalam hal-hal nyata, contohnya, dengan memberikan contoh kecil menggunakan mobil esemka menjadi mobil dinas. Hal ini akan memberikan trickle down effect yang besar. Mungkin mobil esemka ini belumlah sempurna, namun jika ada permintaan, jika ada masalah dalam purnajualnya, ini akan menjadi pelajaran yang sangat baik menuju arah kemandirian yang dicita-citakan. Bukankah produk spektakuler butuh proses?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: