Wawancara singkat Andik Vermansyah

Penampilan Andik Vermansyah kemarin pada saat lawan LA Galaxy membuat kagum banyak pihak, meskipun tinggi badannya “hanya” 162 cm, namun skill dan kecepatannya mampu membuat kerepotan LA Galaxy. Mungkin dulu tak banyak mengenal sosok Andik Vermansyah, gelandang serang mungil asal kota Jember yang dimiliki oleh Persebaya 1927. Ia Mengawali karier dari sepak bola kampung, Andik kini menjelma menjadi pemain andalan klub papan atas LigaIndonesia, Persebaya Surabaya dan juga tim nasional U-23. Namun, siapa sangka awal kariernya tak berjalan dengan mulus. Ia harus banting tulang demi mewujudkan impiannya bermain untuk klub kesayangannya, Persebaya Surabaya. Ternyata, beberapa tahun lalu Andik pernah ditawari untuk bermain di tim junior Benfica, melalui direkturnya Rui Costa. Namun entah mengapa Andik tidak jadi berangkat. Berikut merupakan wawancara singkat Kompas.com dengan Andik Vermansyah, wawancara ini sudah lama dilakukan, namun tidak mengap,a mengingat saat ini Andik sedang populer.

T: Sejak kapan kami bermain sepak bola?
Aku sudah bermain bola sejak lima tahun. Waktu itu aku sering diajak kakak (Agus Dwi Cahyono, kakak nomor dua) bermain di sana. Aku bermain setiap hari di sana hinga aku sering dipukul orang tua karena pulangya Magrib terus dan bolos mengaji. Saat itu masih sepak bola antar-kampung. Baru kelas empat SD aku ikut sekolah sepak bola. Tahun 2005, Aku bergabung denganPersebaya junior.
Pada tahun 2008, aku bersyukur bisa masuk ke tim senior Persebaya. Yang awalnya aku hanya lihat BejoSugiantoro latihan, akhirnya bisa latihan bersama. Aku sangat bersyukur.
T: Bagaimana sikap orang tua mengenai keputusanmu bersepak bola?
Awalnya orang tua kurang mendukung. Setiap habis dari lapangan, aku dipukul, tetapi aku membandel. Aku tahu mereka memukul aku bukan karena tidak sayang, tetapi takut aku kenapa-kenapa, contohnya patah kaki. Sebab, buat makan aja sudah apalagi mengeluarkan dana untuk hal yang tidak perlu. Namun lambat laun orang tua mengizinkan
T: Pernah berpikir pindah ke klub lebih besar?
Aku di Persebaya sudah sejakPersebaya yunior. Sebagai warga Surabaya menjadi suatu kebangaan bisa membela Persebaya. Aku juga senang bisa melihat bonek dan pemain seperti Bejo Sugiantoro.
Aku seperti sudah cinta mati dengan Persebaya. Jadi tak pernah tertarik untuk pindahklub.
T: Kepindahan Persebaya keLiga Primer Indonesia (LPI) juga mengancam kesempatan kamu di timnas. Namun, kami tetap bertahan. Kenapa?
Ya karena aku sangat cinta dengan Persebaya. Aku juga optimistis karena mendengarpernyataan dari bapak Andi Mallarangeng (Menteri Pemuda dan Olah Raga) yangmendukung adanya LPI. Itu yang membuat aku bertahan di Persebaya.
T: Kabarnya kamu pernah dilirik klub Portugal. Bisa cerita soal itu?
Iya. Waktu itu masih pra-kompetisi. Aku baru bermain tiga pertandingan, tapi sudah mencetak banyak gol. Ternyata saat itu pak Llano (Mahardika, CEO Persebaya Surabaya) bikin videonya dan mengirimkannya ke Rui Costa (Direktur Sepak Bola Benfica). Pak Llano merupakan teman dekat Rui Costa. Aku lalu dipanggil sama Pak Llano ke kantornyauntuk bicara empat mata. Beliau bilang, ‘ada tawaran main di Portugal. Kamu mau nggak?’. Ya aku jawab, ‘Kalauada temannya, aku mau, Pak.’
Lagi pula hal itu harus aku diskusikan dulu dengan orang tua dan keluarga. Orang tua mintanya aku tetap di sini (Indonesia). Kalau kakak, dia suruh aku untuk ambil kesempatan itu.
T: Siapa pelatih yang palingberjasa dalam kemajuan karier kamu?
Aji Santoso yang melatih aku selama di PON. Aku baru tahuposisi dan bagaimana menyerang juga bertahan. Aku akui coach Aji sangat berjasa memberikan motivasi kepada aku hingga aku bisa latihan dengan serius.
T: Bagaimana dengan Rahmad Darmawan?
Kalau Pak Rahmad itu mampu merangkul pemain. Dia itu milik semua pemain. Beliau juga mampu memotivasi para pemain yang ada. Kalau secara tekniktidak jauh berbeda dengan pak Aji.
T: Apa momen terindah dalam kariermu?
Waktu aku juara PON bersama Jawa Timur. Saat itukami berhasil mendapatkan emas dan aku dapat hadiah motor Mio sebagai bonusnya.Itu pertama kali aku punya motor sendiri.
T: Kalau momen terburuk?
Saat aku tak pernah dimainkan ketika Persebaya lolos ke Indonesia Super League. Aku sempat kecewa dan pernah berniat untuk pindah.
T: Kamu pernah ditolak masuk timnas saat Indonesia bersiap melawanTurkmenistan. Perasaan kamu?
Aku sangat kecewa saat itu.
T: Bisa ceritakan bagaimana kronologisnya?
Ada yang telepon aku terus menyuruhku datang seleksi, tapi tidak ada surat. Ada kemungkinan surat itu diberikan kepada Persebaya (versi Wishnu Wardhana). Waktu itu aku sempat ditanya coach Aji, ’kenapa kamu tidak berangkat?’. Lalu aku bilang masih bimbang karena masih simpang siur.
T: Banyak orang menjuluki kami Lionel Messi-nya Surabaya. Tanggapan kamu?
Semua juga bilang begitu, tetapi aku tidak merasa seperti itu. Saat aku bermain,para Bonek selalu teriak ’Messi..Messi…Messi’. Saya senang dipanggil Messi, tapi kan beda jauh ha ha ha.
T: Kamu tipe pemain seperti apa?
Itu orang yang menilai. Banyak orang bilang aku pemain yang punya kecepatan. Ada yang bilang, tanpa kecepatan saya tidak bisa jadi pemain seperti ini.

    • Nur Aisah Amelia
    • January 16th, 2015

    Bagaimana dengan kesimpulan wawancaranya dan ringkasannya

      • Nur Aisah Amelia
      • January 16th, 2015

      Nur Aisah Amelia :
      Your comment is awaiting moderation.
      Bagaimana dengan kesimpulan wawancaranya dan ringkasannya

    • Nur Aisah Amelia
    • January 16th, 2015

    Bagaimana dengan ringkasan tentang wawancaranya dan kesimpulannya (n)😛

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: