Pendidikan Indonesia yang Mahal

dd

Pendidikan merupakan hal yang penting untuk kemajuan suatu bangsa. Pendidikan jugamerupakan hal yang wajib untuk diikuti seluruh elemen masyarakat, tanpa harus membayar mahal. Dan yang terpenting ialah, dengan pendidikanlah bangsa kita tidak akan dilecehkan lagi, tidak dianggap buruh murah, dan dianggap sampah di negara orang. Konstitusi negara kita dari UUD ’45 dengan jelas mengatakan bahwa salah satu misi negara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun apakah misi itu sudah terlaksana?.

Kata orang Indikator majunya suatu negara bisa dilihat dari banyaknya orang dengan gelar doktor atau telah menempuh pendidikan s3. Melihat kenyataan dilapangan, Indonesia jauh dari maju, mengingat Di Indonesia belajar wajib hanya 9 tahun, dan pendidikan tinggi tidak diprioritaskan oleh pemerintah. Pemerintah bukannya diam saja melihat hal ini, Pemerintah sudah banyak berusaha dengan program-programnya agar anak-anak Indonesia bisa sekolah, diantaranya sudah menggratiskan spp, dan juga anggaran pendidikan sudah dinaikkan.

Fakta menyebutkan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia itu mahal. Malahan biaya pendidikan tinggi di Indonesia termasuk amat mahal jika dilihat dari rasio gaji penduduknya dibandingkan biaya kuliahnya. Pemerintah sepertinya harus berkaca kepada negera-negara eropa mengenai kebijakan pendidikan tinggi.

Koran Jawa pos baru-baru ini memuat hal yang mengejutkan, setidaknya untuk saya, mengenai biaya pendidikan di Swiss. Biaya pendidikan s1 disana berkisar antara 600 CHF (1 CHF = 9800) persemesternya. Hal ini amat murah mengingat UMR di swiss mencapai CHF 3000. Hal ini berarti biaya kuliah disana hanya 1/30 atau 3.33 % gaji perbulannya. Bandingkan dengan di Indonesia. Biaya kuliah di ITB pada tahun 2009, berkisar sekitar 4 juta per semesternya. Dengan UMR Indonesia rata-rata 1 juta per bulannya, maka biaya kuliah mencapai 60% dari gaji perbulannya. Amat mahal bukan?. Biaya kuliah s2 di Indonesia, bukannya murah (setidaknya untuk merangsang orang melanjutkan jenjang yang lebih tinggi), malah semakin mahal. Untuk ITB biaya kuliah s2 per semesternya mencapai 8 juta rupiah, atau mencapai 120% gaji perbulan rata-rata orang Indonesia. Bandingkan dengan di Swiss, kuliah s2 disana hanya sekitar 300 CHF atau sekitar 3 juta/semesternya. Dan lebih hebat lagi, biaya s3 disana hanya 150 CHF per semesternya dan bahkan ada yang 65 CHF. Sungguh luar biasa swiss dalam menangani bidang pendidikannya. Dengan biaya kuliah sebesar itu, seakan tidak ada artinya bagi mereka untuk kuliah mengingat rata-rata orang swiss memiliki penghasilan CHF 7000-8000.

Sektor pendidikan amat diperhatikan oleh pemerintah disana. Untuk menjadi seorang guru pun ada seleksi yang amat ketat. Guru pun disana amat dihargai, mereka dibayar mahal untuk menjadi seorang guru. Gaji rata-rata seorang guru disana mencapai CHF 15.000 per bulannya. Luar biasa bukan!!

Indonesia mungkin bisa berdalih dengan penduduknya yang banyak, negara belum mampu untuk mensubsidi biaya kuliah ( bahkan terus dikurangi subsidinya). Namun kita doakan bersama, agar biaya pendidikan ini makin turun, dan semakin terjangkau untuk segenap lapisan masyarakat Indonesia, agar Indonesia ke depan menjadi semakin maju, dan SDMnya makin dihargai di dunia Internasional. Dan semoga dengan diterapkannya remunerasi untuk guru-guru di Indonesia, semakin memacu mereka untuk memberikan pelayanan, ayoman yang baik untuk mendidik anak-anak bangsa kita.

JAYA SELALU INDONESIA!!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: