Rasis???

Ketika berkunjung ke kawah ijen, saya berkenalan oleh dua cewek tangguh penjelajah, namanya tres dan jess. Tres berasal dari Irlandia, sedangkan Jess berasal dari Canada. Mereka telah menghabiskan hampir setahun untuk berkelana di asia tenggara. Luar biasa ya!, dan yang lebih mengejutkan mereka menjelajah secara backpackeran, low budget. Untuk ukuran cewek, hal ini saya pandang luar biasa. Mereka mengaku sudah menjelajahi sumatera, dan ke jakarta untuk kemudian naik kereta ke yogyakarta, sebelum akhirnya ke banyuwangi. Hebatnya mereka naik keretas kelas ekonomi. Baru kali ini saya lihat bule mau naik kereta ekonomi.😀. backpacker sejati..mantap,,salut untuk mereka..

Ketika pertama kali bertemu, mereka mencari penginapan dengan tarif 15.000, hah, mana ada?? saya saja nginep ongkosnya 100.000. Dan ketika disodori oleh petugas tiket masuk kawah ijen yang berharga 15.000 untuk turis mancanegara, mereka ngomel-ngomel karena mereka hanya mau membayar tiket masuk domestik yang cuma 2000. Mereka sampai berdebat dengan polhut yang bertugas di pos masuk kawah ijen. Mereka beralasan, bahwa tidak adil mengenakan biaya berbeda karena asal negara, mereka bilang itu rasis. Padahal saya pikir 15000 untuk ukuran negara mereka amatlah kecil. Penghasilan rata-rata penduduknya saja pasti diatas 10 juta.

Jadi apakah pemerintah kita rasis?. Menurut opini saya dunia ini sudah rasis. Terutama untuk penduduk negara dunia ketiga, dimana Indonesia masuk di dalamnya. Sekarang saya ambil contoh, pekerja asing di freeport, gaji mereka apakah sama dengan pekerja lokal? padahal mereka harus bekerja dengan tuntutan yang sama, dengan latar belakang pendidikan dan keahlian yang sama, tidak fair jika salah satu dibayar lebih besar dibanding lainnya hanya karena berbeda negara.

Namun mereka kan jauh dari negaranya?mereka layak dapat gaji lebih besar?, mungkin ada yang berkomentar seperti itu. Ok, sekarang ambil contoh perusahaan migas yang beroperasi di timurtengah. Ada seorang pekerja Indonesia, dan pekerja amerika. Mereka mempunyai latar belakang pendidikan yang sama dan keahlian yang sama, apakah mereka digaji sama?. Tidak. Apakah itu rasis? tidak ada yang pernyataan seperti itu..

Jadi apakah pemerintah kita rasis dengan mengenakan biaya berbeda antara turis lokal dan asing untuk masuk tempat wisata? saya rasa tidak. Menurut saya hal itu sudah proporsional. Proporsional dari segi penghasilan masing-masing individu, dan dengan mempertimbangkan rasa keadilan juga.

Perdebatan antara polhut dan 2 cewek bule itu akhirnya berakhir, dengan hasil si bule mau membayar tiket masuk 15000. Karena pak polhut tersebut mengatakjan ia hanya petugas pelaksana bukan pengambil kebijakan, dan jika bule-bule itu tidak mau membayar, maka hukum akan berlaku. Dan cewek2 bule itu orang yang taat hukum. “dimana bumi dipijak, disitu langit dipikul”. Bukan begitu?

Jaya Indonesia!!!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: