Hukum Menggunakan Uang Haram

Hukum Menggunakan Uang Haram

uang haram
Beberapa waktu yang lalu, ketika terjadi bencana gunung merapi, terdapat kontroversi ketika seorang bintang film akan memberikan sumbangan kepada korban bencana. Masyarakat Islam berselisih pendapat mengenai apakah diperbolehkan menggunakan uang dari bintang film tersebut, karena ditengarai bintang tersebut mendapat penghasilan dari melakukan kegiatan maksiat. Sebagian ada yang memperbolehkan, dan sebagian ada yang mengharamkannya, mana yang benar?

Untuk menjawab permasalahan tersebut perlu dikumpulkan dalil-dalil yang ada. Setelah diteliti ternyata ada dua kelompok dalil yang kelihatannya saling bertentangan. Sebgaian dalil menjelaskan ketidakbolehan menggunakan harta haramsecara mutlak, dan sebagian lainnyamenjelaskan kebolehannya. Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi dalil-dalil tersebut. Sebagian dari mereka membaginya dalam dua kaidah sebagai berikut.

Kaidah pertama
Jika harta haram tersebut berasal dari hasil pencurian, perampokan, penipuan, korupsi dan perbuatan kriminal lainnya yang secara nyata merugikan orang lain maka harta tersebut harus dikembalikan kepada yang berhak, dan haram untuk diambil atau dimanfaatkan dalam bentuk apapun. Tetapi jika harta tersebut tidak bisa dikembalikan kepada yang berhak, karena tidak diketahuiatau karena alasan lainnya, maka diperbolehkan diinfakkan untuk kemaslahatan kaum muslimindan tidak boleh dimakan. Harta semacam ini dikategorikan dalam “hak manusia”

Kaidah tersebut berasal dari dalil-dalil berikut:

Firman Allah SWT dalam Annisa 29
“Hai orang-orang beriman, jangan lah kamu saling memakan harta sesamamudengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”

Hadist Abdullah bin Umar ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
“tidak diterima shalat tanpa bersuci, dan tidak diterima sedekah dari penggelapan harta ghanimah” (HR.Muslim, no 329)

Hadist Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata:
“Kemudian Nabi saw menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Saehingga rambutnya kusut masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku”. Padahal makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan dari makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?” (HR.Muslim, no:1686)

Kisah Abu Mughirah bin Syu’bah : “Dahulu Al Mughirah di masa jahiliyah pernah menemani suatu kaum, lalu dia membunuh dan mengambil harta mereka. Kemudian dia datang dan masuk Islam. Maka Nabi saw berkata saat itu:”Adapun kieislaman maka aku terima, sedangkan mengenai harta ….

Kaedah Kedua

Jika harta haram berasal dai hasil keuntungan lokalisasi pelacurn, perjudian, penjualan khamr, gaji artis porno, hasil penjualan rokok, keuntungan bank konvensional dari transaksi riba, bantuan asing, atau harta warisan dari orang yang mempunyai profesi di atas, serta profesi-profesi lain yang haram, tetapi dilakukan secara suka rela antara kedua belah pihak atau lebihselama hal itu tidak mengikat atau tidak bersyarat serta tidak ada unsur kebatilan mereka, maka mayoritas ulama membolehkan untuk memanfaatkan uang tersebut untuk kemaslahatan kaum muslimin, seperti membangun jembatan, jalan, dan lain-lain. Harta semacam ini termasuk dalam kategori “hak Allah”. Kaidahh ini berdasarkan dalil berikut:

Firman Allah swt,
“Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS.Al-An’am 164)

Ayat diatas menunjukkan bahwa siapa saja yang bekerja pada sesuatu yang mengandung keharaman seperti di Bank Konvensional atau Asuransi Jiwa, atau perjudian atau yang mana pekerjaannya adalah hasil kesepakatan antara mereka sendiri, maka dosanya dia yang tanggung sendiri, dan dosa ini tidak menular kepada orang lain.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwasanya ia berkata: “Bahwasanya seorang wanita Yahudi datang memberikan hadiah kepada Nabi saw berupa seekor kambing yang telah dilumuri racun, lalu beliau memakannya”(HR.Bukhari dan Musllim)
Sebagaimana kita ketahui bahwa kebanyakan orang yahudi memakan harta haram, seperti riba dan lain-lainnya, tetapi walaupun demikian rasulullah saw memakannya.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab ra menerima jizyah(upeti) dari keuntungan penjualan khamr Ahli Kitab (Abdur razaq, al Mushonaf, 8/198)

Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud ra pernah berkata:”Jika Anda diajak makan orang yang hartanya berasal dari riba, maka makanlah.”

Berkata Ibreahin Nakhi: “Terimalah orang yang hartanya berasal dari riba selama Anda tidak menyuruhnya atau mekmbantunya”. (Abdurrazaq, Mushonaf,8/151). Hal serupa juga dikatakan oleh Salman al Farisi. Artinya jika dengan menerima hadiah tersebut tidak membantunya dalam kemungkaran, maka boleh diterima, khususnya jika ada manfaatnya bagi kaum muslimin sekaligus sebagai sarana dakwah dan ta’lif qulub( Meluluhkan hati mereka agar masuk Islam)

Berkata Hasan Al Bashri: “Sesungguhnya Allah swt telah menjelaskan kepada kalian bahwa yahudi dan nasrani makan dari harta riba walaupun begitu dihalalkan makanannya bagi kamu.”

Kesimpulan

dari keterangan diatas, bisa kita simpulkan bahwa dana-dana bantuan-bantuan dari artis manapun juga selama itu masih menyangkut hak Allah swt dan tidak mengikat, maka hukumnya boleh diterima dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan kaum muslimin.
Jika kita menolak bantuan itu juga tidak apa-apa. Hanya saja, dikhawatirkan akan mereka gunakan untuk memperkuat kebatilah mereka, atau membangun proyek-proyek kemaksiatan mereka. Sehingga secara tidak langsung kita membantu telah memperkuatdan membantu kebatilan mereka dengan mengembalikan harta tersebut, padahal hal itu dilarang oleh alla swt, sebagaimana firmannya:

“Dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (QS.Al-Ma’idah:2)
.
Wallahu A’lam

oleh: Dr.Ahmad Zain An Najah, MA dengan perubahan.

    • wibowo
    • April 10th, 2014

    Buku Uang-Uang Haram Dalam Demokrasi
    http://www.mediafire.com/download/kqgrm3tb6q5lkej/Buku+Uang-Uang+Haram+Dalam+Demokrasi+%5BDOC%5D.doc
    Semoga bermanfaat sebesar-besarnya.
    Jazakallah Khoiran Katsira.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: