Kemacetan Bandung

p

Kemacetan merupakan suatu hal yang jamak terjadi di kota-kota besar dunia, tak terkecuali Bandung. Secara sederhana, kemacetan terjadi lantaran panjang jalan serta lebar jalan tidak seimbang dengan jumlah kendaraan. Logikanya, cara paling gampang mengatasi kemacetan adalah dengan menambah panjang jalan dan lebar jalan. Namun, menambah panjang jalan dan lebar di Kota Bandung sekarang ini semakin sulit dilakukan. Yang paling mungkin adalah membuat jalan baru. Atau membangun moda transportasi lain, misalnya kereta api. Menurut Stephen Ison, pakar transportasi asal Universitas Loughborough, Inggris, pembangunan jalan baru, seperti jalan tol dalam kota, sesungguhnya bukan solusi tepat untuk mengatasi kemacetan. Pembangunan jalan baru justru membawa dampak negatif dalam kaitannya dengan kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
macet

Bandung merupakan suatu kota dengan desain awal hanya untuk sekitar 500rb jiwa, dengan perkembangannya, saat ini penduduk Bandung mencapai 2,771juta jiwa, dengan luas wilayah 167,3 km² . Dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi, diperlukan transportasi yang memadai. Saat ini transportasi di Bandung, yaitu angkot,bus damri, bus TMB, becak, dan ojek. Angkot merupakan sarana transportasi yang dominan. Angkutan umum di kota Bandung pada dasarnya belum bisa memberikan kenyamanan berkendara secara maksimal, terkadang jika kita memakai angkot, maka angkot tersebut “ngetem”, sehingga

gg

menimbulkan waktu perjalanan relative lama. Oleh karena itu, banyak warga Bandung akhirnya memakai kendaraan pribadi, seperti motor atau mobil sebagai sarana transportasinya. Kecenderungan seperti ini menimbulkan konsekuensi yang kurang baik, populasi kendaraan meningkat tajam, hal ini tidak dibarengi oleh pembangunan jalan, sehingga kemacetan tak terhindarkan. Kemacetan ini diperparah oleh pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di badan jalan, angkot ngetem, dan lain sebagainya. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya solutif yang menguntungkan semua pihak, agar persoalan kemacetan ini dapat terurai. Untuk mengurai permasalahan kemacetan di Bandung, maka kita lihat diagram di bawah ini.

Kemacetan di kota Bandung khususnya, tejadi pada saat jam-jam sibuk. Sekitar pukul 07.00-08.00 pada pagi hari, dan 16.00-18.00 pada sore hari. Pada jam-jam itu volume kendaraan meluap akibat keluar secara bersamaan, hal ini tidak ditunjang oleh infrastruktur jalan yang memadai, juga diperparah oleh sikap serta perilaku masyarakat, seperti telah dicontohkan diatas. Mengapa kemacetan dipermasalahkan, ada beberapa faktor yang berpengaruh, yaitu;

  • Dampak terhadap lalulintas local
  • Pertumbuhan ekonomi
  • Kualitas hidup
  • Keamanan di jalan raya
  • Polusi lingkungan
  • Boros bahan bakar dan lain sebagainya

Ada beberapa alternative pemecahan masalah terhadap permasalahan kemacetan ini, yaitu,

  • Pengendalian dan pengelolaan supply

Pengendalian dan pengelolaan supply disini berarti mengelola kendaraan, baik kendaraan pribadi maupun umum. Pada kendaraan umum, misalnya angkot, perlunya pembatasan jumlah angkot yang beroperasi disesuaikan dengan jumlah penumpangnya. Jangan sampai, angkot yang banyak tetapi disisi demand(penumpang) sedikit, karena penumpang reltif lebih sedikit dibanding jumlah kendaraan, maka banyak angkot yang ngetem, menyebabkan kemacetan. Lalu perlunya penggantian moda transportasi angkot dengan moda angkutan berbadan lebar seperti bus. Dengan menggunakan bus, maka otomatis jumlah penumpang yang diangkut lebih banyak, sehingga populasi kendaraan umum di jalanan relative lebih sedikit. Tetapi terdapat konsekuensi besar jikalau kebijakan penggantian moda angkutan ini terjadi.

  • Pengendalian dan pengelolaan demand

Pengendalian demand disini berarti pengendalian penumpang angkutan. Salah satu caranya ialah dengan memberikan insentif bagi orang yang menggunakan angkutan umum disbanding menggunakan kendaraan pribadi

  • Pengelolaan penggunaan lahan

Di Bandung, belum tersedianya sarana pemberhentian bagi angkutan umum menjadi masalah tersendiri. Dengan tiadanya fasilitas ini, maka angkutan umum akan berhenti di tempat yang tidak seharusnya berhenti. Hal ini akan menyebabkan kemacetan. Diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dari pemerintah kota untuk menyediankan fasilitas pemberhentian angkutan umum.

  • Pengelolaan kelembagaan

Diperlukan upaya pembinaan kelembagaan baik dari kelembagaan angkutan umum, atau dari pemerintah. Kelembagaan, misalnya pada angkutan kota,  disini bisa berfungsi melakukan pembinaan, serta pemberian sanksi internal jika melanggar peraturan. Dari segi kelembagaan pemerintah, lembaga harus mampu mneyediakan infrastruktur jalan yang memadai, seperti pelebaran jalan, pelebaran persimpangan, Permasalahan perparkiran di tepi jalan, serta pengaturan fungsi dan tata bangunan.

  • Pengawasan secara terus-menerus

Pengawasan dilakukan setelah upaya-upaya seperti dicontohkan diatas telah dilakukan. Dengan dilakukan pengawasan ini, maka upaya yang telah dilakukan tidak akan sia-sia.

Alaternatif diatas bersifat holistik, menyeluruh. Pemilihan alternative penyelesaian masalah tentunya harus dilihat secara seksama, dan harus memberikan solusi yang menguntungkan semua pihak.

Berikut merupakan saran teknis pemecahan masalah kemcetan kota Bandung;

  • Dalam konteks Kota Bandung, mengaktifkan kembali sejumlah jalur kereta api bisa menjadi salah satu pilihan terbaik dalam upaya mengatasi kemacetan lalu lintas. Dengan mengaktifkan kembali jalur kereta api Yang menghubungkan Bandung -Ciwidey dan Bandung -Tanjungsari, setidaknya dapat mereduksi kemacetan Yang saban hari terjadi di rute Cicaheum-Cibiru-Jatinangor dan rute Kopo-Soreang-Ciwidey.
  • Desentralisasi layak pula menjadi bahan pertimbangan. kemacetan kerap terjadi lantaran adanya beragam aktivitas, mulai dari perdagangan, bisnis, pendidikan, pemerintahan, rekreasi, hingga hiburan Yang terpusat pada kawasan tertentu. Perlu diupayakan agar beragam aktivitas ini tidak melulu hanya terpusat pada satu kawasan tertentu.
  • Penerapan pola kerja jarak jauh (tele work) dapat pula menjadi pilihan. Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, karyawan kantor/perusahaan bisa saja bekerja dari rumah masing-masing. Di banyak kota di negara maju, pola ini menjadi bagian Yang menyatu dengan kebijakan pemerintah kota dalam upaya mengurangi kemacetan dan pencemaran udara.
  • Melakukan pembatasan mengenai umur kendaraan yang boleh lewat jalan-jalan kota Bandung

Tentunya untuk mewujudkan hal-hal diatas perlu dukungan dan kerja keras semua pihak.

by:bungben

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: