Budaya Merokok

Fatwa haram merokok di tempat umum sudah diterapkan, sejak sebulan lalu, tetapi apakah ada perubahan dari para perokok untuk tidak merokok d tempat umum? Mungkin gambar di bawah in bisa menjelaskan realita sebenarnya dari para perokok negeri ini.
Gambar di bawah ini saya ambil di kereta api jurusan purwakarta-cibatu. Kenapa saya naek kereta ini? Itu ga penting. Tapi yang jelas kereta ini kereta ekonomi, para penumpang berjejalan, bau amoniak alias bau pesing, terhirup ketika kita hendak masuk gerbong, copet ada dimana-mana (meskipun sudah jarang terdengar lagi), dan yang lebih parah asap rokok ada dimana-mana. Tapi tahukah anda berapa tarif kereta ini?? hanya Rp 1000,- . Apakah karena kereta ini kereta ekonomi orang dengan bebas merokok di dalam gerbong? Tentu tidak bukan. Lalu timbul pertanyaan dalam benak saya (sambil nahan napas) apakah orang-orang ini tahu ada fatwa merokok di tempat umum haram? Apakah mereka tidak tahu? Ataukah mereka tidak peduli??.
Saya mengklasifikasikan orang-orang ini menjadi 4 kelompok? Bisa dilihat di bagan di bawah ini

                                       Peduli                                  Tidak Peduliuntitled

Tidak Tahu

Tahu

Pertama ada kelompok tidak tahu dan tidak peduli, Bagaimana tanggapan pembaca? Saya memberi komentar, bahwa orang itu udik, tentu saja ketinggalan zaman. Agak keras? It’s up2u. Mungkin persentase untuk kelompok ini sekitar 50%.
Kedua kelompok Tidak tahu tapi peduli, maksud peduli di sini ialah berusaha untuk menaati fatwa yang telah di keluarkan, tapi sayangnya orang ini tidak up2date, jadi saya beri komentar orang baik yang ketinggalan zaman. Persentase untuk kelompok ini 10%.
Ketiga, kelompok tahu tapi tidak peduli. Inilah dia sang trouble maker, penghambat majunya negara ini, punya tingkat toleransi yang rendah. Jadi apa komentar anda? Sampah masyarakat. Setuju?!
Untuk kelompok ini saya beri persentase 35%.
Keempat, kelompok Tahu dan peduli. Kelompok ini saya beri komentar sebagai Good Man, orang baik, penuh toleransi, sayangnya kelompok ini mempunyai persentase yang sangat rendah, mungkin hanya 5%.

Jika kita lihat negara-negara maju, karakter seperti kelompok 4 mungkin sudah merasuk ke dalam sanubari setiap orang disana, tetapi mungkin karakter 1-3 mungkin merupakan karakter yang sangat khas negara berkembang. Tapi para perokok yang saya sebutkan di atas juga tidak selamanya salah. Pemerintah dalam hal ini seharusnya ikut dalam pembentukan karakter bangsa, sediakanlah minimal gerbong kereta khusus perokok, sehingga orang2 nonperokok bisa lebih nyaman dalam bepergian.

Selain kereta api, masih banyak moda angkutan transportasi yang sangat2 tidak menghormati orang non perokok. Angkot, yang merupakan kendaraan rakyat di kota bandung, juga tidak bebas dari perokok, masih banyak para supir maupun penumpang yang merokok, dan bayangkan merokok di dalam mobil. Sangat luar biasa bukan!! Bonusnya bisa plusplus, rokok di dalam, bau knalpot diluar.
Sudah saatnya setiap warga negara di bumi Indonesia ini kembali mengahargai sifat toleransi. Bukankah negara kita, terkenal karena sifat toleransinya?

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: