my work

I work in oil company, in downstream directorate. After job training induction for almost a year, i were placed in oil storage terminal, in Kotabaru , South Kalimantan. I assigned in function of maintenance service.

Oil storage terminal Kotabaru is a terminal in Kotabaru, city in Pulau Laut, that has important role in order to secure distribution chain in Kalimantan area. This Oil terminal have vital asset like, pump, flow meter, oil storage tank, pipe, and Jetty. That asset must be properly maintenance.

As a fresh graduate, you can call me that, i have no experience in maintenance. In my Job training induction there are no study about maintenance, just common knowledge. It is true that i graduate from engineering major, but it is different to compare about life in work and university. And there is no proper mentor from my senior. I have to study alone, all of that maintenance vital asset.

And maintenance service (in my company) is not just maintenance facilities. You also must handle about contract, procurement, budgeting, monitoring project, and all. And all project in my work, i think it is not properly prepare. for example, there is a project cost more than half of billion but it didn’t have a drawing. And all those project that has drawing, there are no check, and re-check, you must create and check it alone. Shame on you if your drawing failed.

And maintenance a facilities sure it must have methodology to do it properly. You must have device that can gather data, analyze it, and do the maintenance. For example, we have vibratometer, that device can detect vibration. To maintain a pump, for example, vibratometer can detect if a pump is misalignment, or something trouble. We have no experience it before how to do this thing, and i just meet this device too. So My senior too. i have to study it for sure.

that is just my uneg2, after almost 3 months work in this company. I just hope that we can properly prepared to work in specific area like this. I am not blamed anybody. I will do my best to accomplished this job.

Sahabat itu..

best friend
Di suatu hari ketika kami masih berseragam putih abu-abu, ketika kami berjalan bersama dalam suatu rihlah, menempuh hijaunya kebun teh, menerobos indahnya gunung gemunung, diiringi desauan angin sepoi sepoi, mentor kami bertanya, apa itu sahabat?

beliau memberikan suatu penjabaran yang sangat sederhana,

sahabat itu adalah ketika kita pernah bepergian berdua saja ke suatu tempat yang jauh, pernah tidur bersama, dan pernah berhubungan dalam transaksi keuangan alias hutang piutang, serta pernah bertengkar, namun tentu saja baikan lagi. Itulah sahabat beliau berkata.

menunggu pesawat

menunggu

Menunggu mestinya merupakan suatu hal yang sangat dibenci orang pada umumnya. Dan menunggu merupakan hal yang saya benci, namun karena keadaan yang tidak memungkinkan saya harus menunggu. Hal ini bermula ketika saya hendak ke kotabaru dari pangkalanbun, ternyata penerbangan langsung tiketnya telah habis, dan salah satu alternatifnya adalah memutar lewat jakarta, kemudian jakarta-kotabaru dengan transit di banjarmasin. Namun lagi-lagi pesawat banjarmasin-kotabaru dari maskapai singa udara telah sold out. Namun saya sudah terlanjur memesan pesawat Pangkalanbun-Jakarta pada pagi hari, dan karena semua alternatif untuk transportasi udara ke Kotabaru sudah tertutup, maka dengan terpaksa saya akan naik travel, nah travelnya inipun adanya malam hari. Alhasil dibanding saya harus menunggu di Banjarmasin, yang tempat ruang tunggunya kurang nyaman, maka saya memutuskan untuk mengambil penerbangan sore ke Banjarmasin, dengan harapan ketika saya sampai Banjarmasin, travel sudah ada. Dan akibat dari itu maka saya harus menunggu hampir 8 Jam di Bandara Soetta. Dan saya juga cukup bingung, harus saya gunakan apa waktu selama itu?. Saya menimbang–nimbang opsi-opsi yang ada:

1. Pergi ke mall di Jakarta untuk beli buku atau nonton menghabiskan waktu
Opsi ini sebenarnya amat bagus, jika saja Bandara dan Jakarta cukup dekat. Namun saya pikir ini Jakarta, dan kemacetan selalu menghantui dimana saja. Ujung-ujungnya saya pikir jadi merasa was-was. Jadi saya putuskan tidak mengambil opsi ini.

2. Menunggu di Lounge Bandara
Dan inilah opsi yang saya ambil. Kebetulan di Bandara ada executive Lounge Bandara yang didalamnya tersedia ruang tunggu yang cukup nyaman dan jika lapar, tinggal comot makanan disana. Lagipula masuknya juga gratis, tinggal tunjukkan kartu kredit.

Dan selama waktu tunggu tersebut, saya baca-baca majalah, koran yang tersedia disana. Dan tentunya sambil ngemil :P. Dan saya membeli majalah National Geographic edisi khusus Oktober yang cukup langka, namun saya menemukannya di Bandara. Kenapa saya bilang langka, karena saya cari di gramedia Bandung, majalah ini sudah tidak ada.

Dan setelah bosan baca, saya ngenet, karena wifinya cukup kencang juga. Dan tulisan ini pun saya tulis memanfaatkan free wifi ini. Masih tersesa 2 jam 40 menit lagi sebelum waktu keberangkatan saya. Dan saya kira banyak yang bisa saya kerjakan selama menunggu, tidak seperti yang awalnya saya kira saya akan kebingungan untuk berbuat apa selama 8 jam itu.

Menunggu itu menjengkelkan, namun bisa menyenangkan ketika kita bisa memanfaatkan waktu tersebut dengan sesuatu yang positif.

Sepeda Lipatku

Alhamdulillah akhirnya saya punya sepeda lagi, setelah sepeda terakhir saya dicuri orang. Kali ini saya milih beli sepeda lipat, meskipun sebenarnya ingin beli MTB. Karena kalo beli MTB susah dibawa2, lagipula saya beli sepedanya di Surabaya untuk dipergunakan di Kotabaru. Sehingga agar sepeda bisa masuk, saya pikir lebih simpel jika saya membeli sepeda lipat.

Awalnya saya bingung beli sepeda lipat merk apa. Namun setelah memertimbangkan antar polygon bike to word, wimcycle pocket, dan dahon, saya memutuskan beli dahon. Kenapa dahon?. Dahon merupakan merk sepeda dengan spesialisasi sepeda lipat, dan banyak pabrikan lain menggunakan lisensi dahon untuk memproduksi sepeda lipat, istilahnya DLT (dahon licensed technology). Meskipun dari harga lebih mahal, namun saya pikir dengan kualitas yang sudah teruji saya beli seli ini. Dan saya beli tipe Vitesse D7, dengan rangka alumunium alloy.

Dan sepeda ini akhirnya saya angkut dengan dimasukkan bagasi pesawat. Untuk Garuda, membawa sepeda gratis. Begitupun dengan Lion Balikpapan-banjarmasin, namun untuk wings air Banjar-Kotabaru, bagasi sepeda tidak gratis. saya sempat protes ke petugas check-in nya, kenapa Lion gratis, wings air bayar? petugasnya malah bilang harusnya di Lion juga bayar. dan dia sempat menyatakan hanya stik golf saja yang pasti gratis bagasi. jadi siapa yang salah??? entahlah.

mau lihat penampakannya?

 bike

Selesai sudah..

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, setiap permulaan pasti ada akhir. Rabu 23 Januari 2013 merupakan hari kelulusan kami dari program pendidikan calon pekerja PT Pertamina (Persero), yang artinya selesai sudah masa-masa menyenangkan penuh suka duka menjalani program pendidikan ini. Kami 41 orang BPS M&T bisa dikatakan sudah seperti keluarga, keluarga besar, yang memiliki ikatan batin satu sama lain, sehingga saat-saat akhir itulah keharuan yang ada, antara senang dan haru karena kami harus berpisah.

Acara penutupan berlangsung di gedung kantor pusat Pertamina, dengan ditutup langsung oleh direktur utama, Ibu Karen. Semua peserta, total berjumlah 267 orang, baik BPS maupun BPA dari berbagai direktorat berkumpul disana. Keceriaan terlihat dari wajah-wajah yang hadir hari itu. Riuh rendah suara-suara ceria terdengar bersahut-sahutan. Semua bergembira karena telah berakhir masa pendidikan. Menjadi awal permulaan kami untuk membangun bangsa negara melalui Pertamina.

Rabu malam kami berkumpul bersama, khusus direktorat kami, M&T. Dan kebetulan salah seorang kawan kami, Nia Ulang Tahun. Jadi sembari melaksanakan farewell party sekaligus merayakan ultah. Diakhir acara suasana mendadak haru. Kami akan berpisah satu sama lain. Menjalani pendidikan, mulai dari pendidikan karakter bersama, masa-masa berat ketika harus menjalani kewiraan di Malang, dan masa-masa di Cepu, Cirebon, Jakarta merupakan momen-momen yang menumbuhkan ikatan kebersamaan kami. Namun inilah awal perjuangan kami.

O ya, siang setelah wisuda, diumumkan tempat penugasan kami. Dan ternyata kami akan tersebar dari ujung barat sampai ujung timur ada. Seru sekali. Dan saya ditertawakan karena daerah penugasan saya juga termasuk terpencil haha. Tak apalah, Indonesia memang harus kita jelajahi.

Salam jaya Indonesia.

balongan-jatibarang-jakarta

ini pertama kali saya jalan2 ke indramayu, sebenernya ga jalan2 sih, tapi sedang ada penelitian aja di depot balongan. Indramayu, kota di pesisir utara jawa barat ternyata kotanya yang dalam bayangan saya semula ramai oleh bis2 besar lintas pantura, eh ternyata kotanya tentram dan damai. Kendaraan bermotor jarang2 lewat, angkot pun jarang, dan walaupun letaknya dekat dengan pantai, hawanya ga terlalu panas kayak jakarta. Balongan adalah nama kecamatan di Indramayu, sekitar 15 menit dari pusat kota. Angkot kesana jarang, apalagi kalo jam 4 sore mau pulang dari balongan ke kota, udah ga ada rek. Alhasil selama di balongan kami hampir selalu diantar jemput. Jakarta-balongan kemarin kami tempuh dengan mobil, dan menghabiskan 4 jam, karena macet dan lainnya.

Nah, ketika mau pulang, kami mencoba naik kereta. Stasiun KA tidak ada di Indramayu, adanya di jatibarang. Jatibarang sendiri adalah nama kecamatan di indramayu selatan. Iming2nya sih, jatibarang-jakarta bisa ditempuh selama 2,5 jam. Indramyu-jatibarang sendiri ditempuh selama 30 menit, menempuh 14 km. Jalannya sepi, aga bergelombang. Dan tidak disangka-sangka, jatibarang ternyata lebih hidup dibanding indramayu, namun lebih kumuh. Bangunan-bangunan dipinggir jalan mepet sama Jalan rya, alhasil sering terjadi kemacetan disitu. Suasananya tidak teratur. Dan untuk memasuki Stasiun, wow, kami harus melewati pasar yang ramai, dimana kegiatan jual-beli, bongkar muat barang trjadi di jalan. alhasil kena macet kami disitu. Padahal stasiun merupakan tempat transportasi umum yang harusnya akses jalannya mantap, tapi disini malah sebaliknya.

Okey, kereta kami Cirebon ekspress berangkat pukul 4, telat dibanding jadwal di tiket, namun itu sudah biasa di KA2 Indonesia. Dan akhirnya kami tiba di jakarta pukul 18.30, 2,5 jam saja. cepat ya..

Mencari tempat untuk internetan

Hari ini saya bisa intenetan dengan nyaman, karna dari kemarin susah banget cari sinyal di tempat saya ini. Oh ya tempat tinggal saya ini kamar kosan dengan 2 tempat tidur, tempat tidur tersebut ada yang dekat jendela dan ada yang tidak. Nah tempat tidur saya ada di tempat yang jauh dari jendela. Entah kenapa sulit sekali dapat sinyal 3 g disana, dan hari ini saya iseng pindah ke tempat tidur kawan saya, kebetulan dia sedang pergi, eh luar biasa sinyal lancar jaya disini. Padahal jarak tempat tidur satu ke tempat tidur lain cuma 1 meter, hehehe.

Kejadian ini bukan cuma saya alami di kosan saya, di kantor pun begitu. Ketika saya pindah meja, 2 meter dari meja saya yang lama tiba2 saya susah konek ke internet padahal sinyal wifi masih tersambung ke komputer saya. Akhirnya saya balik lagi ke meja yang lama, dan seketika saya bisa internetan lagi dengan lanjar jaya juga.

Kenapa ya ini? :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.